KESIAPAN KOTA MADIUN TERHADAP PENERAPAN KONSEP KOTA KREATIF GASTRONOMI

Devy Herawati, Winny Astuti, Erma Fitria Rini

Abstract

Kota Madiun yang sering dikenal dengan kota pecel, merupakan kota yang memiliki potensi besar di bidang kuliner. Industri kuliner merupakah salah satu aktivitas ekonomi utama masyarakat di Kota Madiun. Potensi tersebut mendorong Pemerintah Kota Madiun untuk menerapkan konsep kota kreatif gastronomi di Kota Madiun. Hal tersebut juga didorong oleh peran Kota Madiun sesuai yang telah direncanakan oleh Pemerintah Jawa Timur sebagai hinterland atau pusat aktivitas ekonomi untuk daerah sekitarnya. Namun dalam persiapannya masih ada kendala yang dihadapi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis kesiapan Kota Madiun terhadap penerapan konsep kota kreatif gastronomi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan analisis skoring skala Likert. Analisis skoring dilakukan pada masing-masing parameter. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kota Madiun termasuk dalam kategori cukup siap untuk diterapkan konsep kota kreatif gastronomi. Hal ini diketahui dari adanya beberapa variabel yang termasuk dalam kategori siap, yaitu industri kreatif dan komunitas kreatif. Hasil akhir penelitian yang didapatkan menyatakan bahwa ketidaksiapan variabel-variabel tersebut disebabkan oleh kurangnya dukungan pemerintah dan pelaku industri untuk menciptakan lingkungan kota yang mampu mengembangkan ide-ide penduduk Kota Madiun dalam penerapan konsep kota kreatif gastronomi.

Keywords

gastronomi; kesiapan; kota kreatif; kota kreatif gastronomi

Full Text:

PDF

References

Chengdu City of Gastronomy. (2012). Reviewing Report on City of Gastronomy Chengdu China. Chengdu: Chengdu City of Gastronomy. Diakses dari https://en.unesco.org/creative-cities/sites/creative-cities/files/EvaluationReport_Chengdu.pdf Evans, G. (2009). Creative Cities. Creative Space and Urban Policy. SAGE Journals, 46(5-6), 1003-1040. DOI: 10.1177/0042098009103853 Florida, R. (2005). Cities and The Creative Class, City & Community, 2(1), 3-19. Diakses dari http://www.estudislocals.cat/wp-content/uploads/2016/11/4-Cities-and-the-Creative-Class.pdf Gilleisole. (2001). Psikologi Umum. Bandung: Bumi Aksara KIM Bakti Pertiwi. (2016, April 12). Kota Madiun Menuju Kota Kreatif. Diakses dari http://kimbhaktipertiwi.blogspot.com/2016/04/v-behaviorurldefaultvmlo.html Landry, C. (2000). The Creative City: A Toolkit for Urban Innovator. London: Earthscan. Landry, C. (2006). The Art of City- Making, Journal Australian Planner, 43(4), 47. DOI: 10.1080/07293682.2006.9982528 Lopez-Guzman, T., Hernandez-Mogollon, J. M. & Clemente, E. D. (2014). Gastronomic Tourism as an Engine For Local and Regional Development, EconPapers, 14(1), 95-104. Diakses dari https://www.usc.gal/economet/reviews/eers1417.pdf Pratt, A. (2008). Creative cities: Tensions within and between social, cultural and economic development. City, Culture and Society, 1, 13-20. DOI: :10.1016/j.ccs.2010.04.001 Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: CV. Alfabeta UNESCO Creative City Network (2004). Creative Cities Network. Diakses dari http://en.unesco.org/creative-cities/ Vickery, J. (2011). Beyond the Creative City – Cultural Policy in an age of scarcity. Birmingham: University of Warwick. Diakses dari http://made.org.uk/media/files/BeyondtheCreativeCity.pdf Wibisono, R. (2015). INDUSTRI KREATIF : Di Madiun, Madumongso dan Sambal Pecel Dianggap Produk Ekonomi Kreatif. Diakses dari https://www.madiunpos.com/industri-kreatif-di-madiun-madumongso-dan-sambal-pecel-dianggap-produk-ekonomi-kreatif-663642

Refbacks

  • There are currently no refbacks.