Pertumbuhan Berbagai Macam Bahan Eksplan Kentang Atlantik secara In Vitro dengan Perlakuan IAA

Anisah Shofhatur Rohmah

Abstract

Kentang kultivar Atlantik merupakan kentang untuk bahan baku industri pangan. Produktivitas kentang yang rendah disebabkan karena perbanyakan secara konvensional belum dapat menghasilkan benih berkualitas baik. Perbanyakan konvensional terkendala dengan akumulasi patogen, penurunan kualitas serta rendahnya tingkat multiplikasi. Kultur jaringan merupakan metode yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi IAA yang tepat pada berbagai macam bahan eksplan kentang Atlantik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2020 di Laboratorium Kultur Jaringan Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi IAA pada taraf 0,5; 1; dan 1,5 ppm; dan faktor kedua adalah macam bahan eksplan yaitu bagian pucuk, bagian tengah, dan bagian pangkal planlet, terdapat 9 kombinasi dan 3 kali ulangan. Pengamatan dilakukan pada 8 MST dengan parameter tinggi planlet, jumlah buku, jumlah tunas samping, jumlah daun, warna daun, panjang akar, dan bobot kering planlet. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi IAA 1 ppm dengan macam bahan eksplan bagian tengah secara interaksi dapat meningkatkan jumlah buku dan jumlah daun planlet kentang Atlantik. Konsentrasi IAA 0,5 ppm secara tunggal dapat meningkatkan tinggi planlet, jumlah tunas samping, panjang akar, dan bobot kering planlet kentang Atlantik. Macam bahan eksplan bagian tengah secara tunggal dapat meningkatkan jumlah tunas samping planlet kentang Atlantik.

Keywords

auksin, kultur jaringan, zat pengatur tumbuh

Full Text:

PDF

References

Amarullah, M.R., Sudarsono, dan S. Amarillis. 2019. Produksi dan Budidaya Umbi Bibit Kentang (Solanum tuberosum L.) di Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Bul. Agrohorti, 7(1): 93-99.

Badan Pusat Statistik. 2019. Produksi Tanaman Sayuran. www.bps.go.id/subject/55/hortikultura.html (diakses pada 15 Desember 2019).

Balitsa. 2018. Kentang Varietas Atlantik Malang. http://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/varietas/ cabai/36-halaman/631-kentang-varietas-atlantic-malang (diakses pada 13 Desember 2019)

Barbier, F. F., E. A. Dun., dan C. A. Beveridge. 2017. Apical Dominance. Current Biology, 27(17): 864-865.

Campbell, N. A. 2008. Biologi Edisi ke-8 Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Dewanto, H. A., D. Saraswati, dan O. D. Hadjoeningtijas. 2018. Pertumbuhan Kultur Tunas Aksilar Kentang (Solanum tuberosum L.) dengan Penambahan Super Fosfat dan KNO3 pada Media AB Mix secara In Vitro. AGRITECH, 20 (1), 75.

Enders, T. A. dan L. C. Strader. 2015. Auxin Activity: Past, Present, and Future. American Journal of Botany, 102(2): 180-196.

Furnawanthi, I., S. J. Devianti, D. Naulya, R. Mardiyanto, dan M. Elya. 2017. Respon Pertumbuhan Eksplan Kentang (Solanum tuberosum L.) Varietas AP-4 Terhadap Manitol sebagai Media Konservasi secara In Vitro. Prosiding Seminar Nasional 2017 Fakultas Pertanian UMJ “Pertanian dan Tanaman Herbal”. Jakarta. Hal. 245-252.

Germana, M.A., and M. Lambardi. 2016. In Vtro Embryogenesis in Higher Plants. Methods Mol Biol, 1359:1–577.

Gomesh K. A., dan A. A. Gomesh. 2010. Prosedur Statistika untuk Penelitian Pertanian. (Sjamsudin E. dan J. S. Baharsjah, Terjemahan). Jakarta: UI Press.

Kondhare, K. R., A. B. Patil., dan A. P. Giri. 2021. Auxin: An Emerging Regulator of Tuber and Storage Root Development. Plant Science, 306: 1-10.

Kumalay, A. M., 2014. Combinaton of the Auxins NAA, IBA, and IAA with GA3 Improves the Commercial Seed-Tuber Production of Potato (Solanum tuberosum L.) under In Vitro Condition. BioMed Research International, 2014: 7

Lestari, E. G. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan Tanaman melalui Kultur Jaringan. Jurnal AgroBiogen, 7(1): 63-68.

Loyola-Vargas V. M. dan N. Ochola-Alejo. 2018. An Introduction to Plant Tissue Culture: Advances and Perspective. Methode in Molecular Biology, 1815: 1-13.

Ludwig-Muller, J. 2011. Auxin Conjugates: Their Role for Plant Development and and in the Evolution of Land Plants. Journal of Experimental Botany, 62(6): 1757-1773.

Mastuti, R. 2017. Dasar-Dasar Kultur Jaringan Tumbuhan. Malang: UB Press.

Munggarani, M., E. Suminar, A. Nuraini, dan S. Mubarok. 2018. Multiplikasi Tunas Meriklon Kentang pada Berbagai Jenis dan Konsentrasi Sitokinin. AGROLOGIA, 7(2): 80-89.

Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Bandung: ITB Press.

Sumaryono dan I. Riyadi. 2010. Pembentukan In Vitro Akar Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) dalam Medium Cair dengan Penambahan Auksin. Menara Perkebunan, 78(1): 19-24.

Suryaningrum, R., E. Purwanto, dan Sumiyati. 2016. Analisis Pertumbuhan Beberapa Varietas Kedelai pada Perbedaan Intensitas Cekaman Kekeringan. Agrosains, 18(2): 33.

Wang, D., L. Cheng., Y. Wang., dan F. Zhang. 2018. Comparative Proteomic Analysis of Potato (Solanum tuberosum L.) Tuberization In Vitro Regulated by IAA. American Journal of Potato Research, 95:395-412.

Wattimena. 2000. Pengembangan Propagul Kentang Bermutu dari Kultivar Unggul dalam Mendukung Peningkatan Produksi Kentang di Indonesia. Orasi ilmiah guru besar tetap ilmu hortikultura Fakultas Pertanian IPB. 2 September. Bogor. Hal. 86.

Xu, X., A. A. van Lammeren, E. Vermeer, dan D. Vreugdenhil. The Role of Gibberellin, Abscisic Acid, and Sucrose in Regulation of Potato Tuber Formation in Vitro. Plant Physiol, 177(1998): 575-584.

Zhang, Z., W. Zhou., dan H. Li. 2005. The Role of GA, IAA, and BAP in the Regulation of In Vitro Shoot Growth and Microtuberization in Potato. Acta Physiologiae Plantarum, 27(3B): 365-369.