INOVASI MODEL BIOINDUSTRI BERBASIS SAGU SPESIFIK LOKASI DI PAPUA

Petrus Alexander Beding, Niki Lewaherilla

Abstract


Abstrack : The Sago Bioindustry Agriculture Model produces food raw materials in the form of flour, and sago sugar food ingredients and the use of sago waste into organic fertilizer. The results of the business analysis show that sago starch, sago sugar and fertilizer products provide benefits for increasing farmers' income and are feasible to be developed each with a business feasibility level of R / C sago flour R / C (2.44) efficiency level for venture capital 40 , 8%; sago sugar R / C value of 2.81 with an efficiency level of 22.6% and sago waste organic fertilizer value of R / C 1.3 with a level of business capital efficiency of 76%. The purpose of this research is to disseminate location-specific sago bioindustry technology innovation models in accordance with the SOP of quality sago flour production, sago-based food processing, and utilization of waste for fertilizer.

 

Abstrak: Model Pertanian Bioindustri sagu menghasilkan produk bahan baku pangan berupa tepung, dan bahan pangan gula sagu serta pemanfaatan limbah sagu menjadi pupuk organik. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendiseminasikan model  inovasi teknologi bioindustri sagu spesifik lokasi sesuai dengan SOP produksi tepung sagu bermutu, pengolahan pangan berbasis sagu, dan pemanfaatan limbah untuk pupuk. Hasil analisis usaha menunjukan bahwa produk tepung sagu, gula sagu dan pupuk  memberikan nilai manfaat bagi peningkatan pendapatan petani dan layak untuk dikembangkan masing-masing dengan tingkat kelayakan usaha R/C tepung sagu R/C (2,44) tingkat efisensi terhadap modal usaha 40,8%; gula sagu nilai R/C 2,81 dengan tingkat efisiensi 22,6% dan pupuk organik limbah sagu  nilai R/C 1,3 dengan tingkat efisiensi modal usaha sebesar 76%.    


Keywords


bioindustry; model; sago; location-specific; bioindustri; model; sagu; spesifik lokasi

Full Text:

PDF
rticle

References


APTINDO (Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia). (2016/2/17). Indonesia wheat flour consumption and growth. Retrieved from http://aptindo.or.id.

BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan). 1987. Penelitian pemanfaatan sagu sebagai bahan pembuatan makanan. Laporan Akhir. Kerjasama BPPT dengan pusat pengembangan teknologi pangan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Bintoro, H.M.H., Hariyanto, B., Horigone, T., Marangkey, M.P., Sakaguchi, E., dan Takamura, Y. 1990. Feeding Value of Pith and Pith Residue from Sago Palm. Proceding Takahashi-Shi. Nutrition Conference, 112. Okayama.

Bintoro, H.M.H., Purwanto, M.Y.P., Amarillis, S. 2010. Sagu Di Lahan Gambut. Bogor: IPB Press.

Bintoro, D., Shandra, A., Ratih, K.D., dan Detieka, A. 2013. Sagu Hijau Mutiara Khatulistiwa yang Dilupakan. Bogor: Digregat Publishing.

Budiyanto, A. 2015. Bioindustri Sagu. Disampaikan pada pelatihan Diversifikasi Olahan Sagu di BPTP Sulawesi Tenggara, Kendari tanggal 23 Oktober 2015.

Flach, M. 1983. The Sago Palm: Domestication Exploitation and products. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.

Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Jakarta: UI Press.

Wirakartakusumah, M.A., Eriyatno, Fardias, S., Thenawijaya, Muchtadi, D., dan Laksmie, J. 1984. Studi Tentang Ekstraksi, Sifat-sifat Fisikokimiawi Pati Sagu dan Pengkajian Enzima. Bogor: Institut Pertanian Bogor.




DOI: https://doi.org/10.20961/sepa.v16i2.32070

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


 

Creative Commons License