Walkability Kawasan Stasiun Purwosari, Kota Surakarta
Abstract
Kawasan Stasiun Purwosari merupakan kawasan yang memiliki letak strategis di Kota Surakarta. Stasiun tersebut berada dekat dengan pusat aktivitas dengan guna lahan yang beragam dan telah terintegrasi dengan berbagai moda transportasi umum seperti KRL Commuter Line, kereta api lokal Batara Kresna, dan Bus Rapid Transit (BRT) Batik Solo Trans. Hal tersebut memunculkan peluang adanya ketertarikan atau keinginan masyarakat untuk bergerak atau melakukan perjalanan di dalam kawasan dengan berjalan kaki. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui walkability kawasan Stasiun Purwosari dalam mendukung aktivitas pergerakan internal kawasan dengan berjalan kaki. Penelitian ini menggunakan teknik skoring untuk mengetahui tingkat walkability dan menggunakan Matriks Asal Tujuan (MAT) untuk mengetahui pola pergerakan internal. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari melalui kuesioner dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar jalur pejalan kaki pada kawasan Stasiun Purwosari tergolong ke dalam kategori tidak walkable sehingga masih belum dapat mendukung pergerakan dengan berjalan kaki. Meskipun kawasan ini telah memiliki guna lahan yang beragam, jika tidak didukung dengan fasilitas jalur pejalan kaki yang walkable, maka akan berpengaruh pada tingkat jumlah pejalan kaki.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Agustin, I. W. (2017). Penerapan Konsep Walkability di Kawasan Alun-Alun Kota Malang. Jurnal Pengembangan Kota, 5(1), 45–57. https://doi.org/10.14710/jpk.5.1.45-57
Austroads. (2009). Guide to Road Design Part 6A: Pedestrian and Cyclist Paths. Austroads Incorporated.
Avenzor, A., Elviana, E., & Utomo, H. P. (2020). Arahan Penataan Jalur Sirkulasi Guna Menunjang Walkability Pengunjung pada Taman Kota di Surabaya. Langkau Betang: Jurnal Arsitektur, 7(2), 121–133. https://doi.org/10.26418/lantang.v7i2.39676
Cervero, R., & Gorham, R. (1995). Commuting in Transit Versus Automobile Neighborhoods. Journal of the American Planning Association, 61(2), 210–225. https://doi.org/10.1080/01944369508975634
Choi, E. (2014). Walkability and The Complexity of Walking Behavior. Space Syntax, 11(2), 87–99.
Choi, Y., & Guhathakurta, S. (2020). Do People Walk More in Transit-Accessible Places? Journal of Transport and Land Use, 13(1), 343–365. https://doi.org/10.5198/jtlu.2020.1530
Distefano, N., Leonardi, S., & Liotta, N. G. (2023). Walking for Sustainable Cities: Factors Affecting Users’ Willingness to Walk. Sustainability, 15(7), 5684. https://doi.org/10.3390/su15075684
Iamtrakul, P., Raungratanaamporn, I., Klaylee, J., & Chaypong, S. (2021). The Walkability of Transit Oriented Development (TOD): A Case Study of Bangkok Metropolitan, Thailand. Lowland Technology International Journal, 22(4), 181–192. https://doi.org/10.0001/ialt_lti.v22i4.772
ITDP. (2017). TOD Standard 3.0. Institute for Transportation and Development Policy.
Kockelman, K. M. (1997). Travel Behavior as Function of Accessibility, Land Use Mixing, and Land Use Balance: Evidence from San Francisco Bay Area. Transportation Research Record: Journal of the Transportation Research Board, 1607(1), 116–125. https://doi.org/10.3141/1607-16
Laham, M. L., & Noland, R. B. (2017). Nonwork Trips Associated with Transit-Oriented Development. Transportation Research Record: Journal of the Transportation Research Board, 2606(1), 46–53. https://doi.org/10.3141/2606-06
Lestari, F. (2020). Identifikasi Fasilitas Pejalan Kaki di Kota Bandar Lampung. JICE (Journal of Infrastructural in Civil Engineering), 1(1), 27–32. https://doi.org/10.33365/jice.v1i01.703
Minhas, P., & Poddar, A. (2017). Walkability Index by Global Walkability Index Method. International Research Journal of Engineering and Technology, 4(7), 2957–2963.
Kementerian Pekerjaan Umum. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 03/PRT/M/2014 Tahun 2014 Tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan (2014). https://peraturan.bpk.go.id/Details/128205/permen-pupr-no-03prtm2014-tahun2014
Pongprasert, P., & Kubota, H. (2017). Switching From Motorcycle Taxi to Walking: A Case Study of Transit Station Access in Bangkok, Thailand. IATSS Research, 41(4), 182–190. https://doi.org/10.1016/j.iatssr.2017.03.003
Qurratuain, K., & Sardjito, S. (2020). Pengaruh Bangkitan Pergerakan di Koridor Mulyosari terhadap Kinerja Jalannya. Jurnal Teknik ITS, 9(1), 98–102.
Singh, Y. J., Lukman, A., Flacke, J., Zuidgeest, M., & Maarseveen, M. F. A. M. Van. (2017). Measuring TOD Around Transit Nodes - Towards TOD Policy. Transport Policy, 56, 96–111. https://doi.org/10.1016/j.tranpol.2017.03.013
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sukor, N. S. A., & Fisal, S. F. M. (2018). Factors Influencing the Willingness to Walk to the Bus Stops in Penang Island. Planning Malaysia Journal, 16(1), 193–204. https://doi.org/10.21837/pm.v16i5.423
Tamin, O. Z. (2000). Perencanaan dan Pemodelan Transportasi. Penerbit ITB.
Wenur, F. B., Rogi, O. H. A., & Poluan, R. J. (2021). Kajian Bentuk Struktur Spasial berdasarkan Pola Pergerakan Masyarakat di Kota Tomohon terkait Fenomena Pandemi COVID-19 sebagai Dasar Pengembangan Jaringan Transportasi Lokal. Jurnal Spasial, 8(3), 432–446.
Wibowo, S. S., Tanan, N., & Tinumbia, N. (2015). Walkability Measures for City Area in Indonesia (Case Study of Bandung). Journal of the Eastern Asia Society for Transportation Studies, 11, 1507–1521. https://doi.org/10.11175/EASTS.11.1507
Refbacks
- There are currently no refbacks.











