Pertentangan Kaum Muda dan Kaum Tua dalam Novel Anak Rantau Karya A. Fuadi: Kajian Arena Pierre Bourdieu
Abstract
Novel Anak Rantau mencerminkan kondisi sosial dan budaya masyarakat Minangkabau ketika dihadapkan dengan perubahan zaman. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertentangan antara kaum muda dengan kaum tua yang memiliki perbedaan pandangan terhadap nilai-nilai aturan adat-istiadat. Penelitian ini bertujuan memaparkan bagaimana pertentangan antara kaum muda dan kaum tua dapat terjadi akibat adanya perbedaan habitus dan modal, serta bagaimana perbedaan dua kelompok tersebut bertemu di dalam arena untuk memperebutkan dominasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan strukturalisme genetik Pierre Bourdieu berupa teori arena untuk membedah data berupa narasi dan dialog dalam novel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan kaum muda bertindak sebagai aktor/agen perubahan yang membawa habitus baru berbasis modernitas yang efisien, teknologi hiburan, dan pandangan agama yang berbeda dari kaum tua. Tindakan kaum muda merupakan bentuk perlawanan terhadap kaum tua yang menjunjung tinggi aturan adat-istiadat. Kaum tua mengandalkan modal simbolik berupa otoritas adat dan modal kultural tradisional untuk mempertahankan nilai-nilai lama. Pertentangan kaum muda dan kaum tua menjadi titik balik yang mengembalikan legitimasi kaum tua sebagai pemegang otoritas di masyarakat. Krisis sosial tersebut juga mendorong terjadinya negosiasi penguatan kembali lembaga adat sebagai alat kontrol sosial, dengan tetap mempertimbangkan habitus positif yang dibawa kaum muda.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Astuti, N. D., & Arifin, Z. (2021). Nilai sosial dalam novel Ananta Prahadi karya Risa Saraswati: Tinjauan sosiologi sastra dan relevansinya sebagai bahan ajar di SMA. ENGGANG: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya, 2(1), 13–22. https://doi.org/10.37304/enggang.v2i1.2848
Bourdieu, P. (1990). The logic of practice. Stanford, CA: Stanford University Press. https://doi.org/10.1515/9781503621749
Damono, S. D. (2022). Sosiologi sastra. Jakarta, Indonesia: Gramedia Pustaka Utama.
Farhimni, Ernawati, T., & Wijaya, H. (2021). Hegemoni kultural dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. ALINEA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 1(1), 38–47. https://doi.org/10.58218/alinea.v1i1.29
Fauziah, S., & Dewi, T. U. (2021). Nilai-nilai sosial dalam dwilogi novel Sepasang yang Melawan karya Jazuli Imam (Pendekatan sosiologi sastra). Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 10(2), 1–16. https://doi.org/10.31000/lgrm.v10i2.4739
Fuadi, A. (2017). Anak rantau. Jakarta, Indonesia: Falcon Publishing.
Harraca, M., Castello, I., & Gawer, A. (2023). How digital platforms organize immaturity: A sociosymbolic framework of platform power. Business Ethics Quarterly, 33(3), 440–472. https://doi.org/10.1017/beq.2022.40
Johnson, D. P. (1986). Teori sosiologi klasik dan modern (Terjemahan Robert M. Z. Lawang). Jakarta, Indonesia: PT Gramedia.
Noor, R. (2005). Pengantar pengkajian sastra. Semarang, Indonesia: Fasindo.
Nurgiyantoro, B. (1998). Teori pengkajian fiksi. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press.
Swartz, D. (1997). Culture and power: The sociology of Pierre Bourdieu. Chicago, IL: The University of Chicago Press. https://doi.org/10.7208/chicago/9780226161655.001.0001
Refbacks
- There are currently no refbacks.





