Identifikasi Interaksi Obat Pada Pasien Bronkopneumonia Anak Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit UNS Tahun 2024

Alvinditya Cahya Trianindya

Abstract

Latar belakang: Bronkopneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian anak di Indonesia yang memerlukan terapi antibiotik dan suportif. Penggunaan beberapa obat secara bersamaan berpotensi menimbulkan interaksi obat yang dapat mempengaruhi efektivitas terapi.

Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dan data retrospektif dari 80 pasien anak usia 0–5 tahun yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit UNS tahun 2024. Data penggunaan obat dikumpulkan dari rekam medis dan dianalisis untuk mengidentifikasi potensi interaksi obat menggunakan Stockley’s Drug Interaction, Drugs.com, dan Medscape. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi gambaran penggunaan obat serta potensi dan mekanisme interaksi obat yang terjadi.

Hasil: Obat antibiotik yang paling sering digunakan adalah ceftriaxone (58,3%), sedangkan non-antibiotik terbanyak adalah budesonid (11,89%). Interaksi obat paling sering terjadi antara gentamicin dan ampicillin (42,8%) dengan mekanisme farmakodinamik tingkat keparahan sedang. Interaksi antara ceftriaxone dan furosemid juga ditemukan (30,7%) dengan mekanisme farmakokinetik dan tingkat keparahan sedang.

Kesimpulan: Potensi interaksi obat pada pasien bronkopneumonia anak cukup tinggi dengan dominasi mekanisme farmakodinamik dan tingkat keparahan sedang. Hasil ini menunjukkan perlunya pemantauan interaksi obat untuk meningkatkan keamanan dan efektivitas terapi pasien.

Kata Kunci: anak, antibiotik, bronkopneumonia, interaksi obat, rekam medis

Refbacks

  • There are currently no refbacks.