Tubuh, Saweran, dan Identitas Budaya: Autoetnografi Pengalaman dalam Upacara Ngarot Lelea

Isad Suhaeb, Vrisa Rivera, Hawa La'ala Nabilla Fada, Wahyu Triani

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengalaman tubuh (embodied experience) peneliti dalam mengikuti praktik saweran pada upacara adat Ngarot untuk memahami bagaimana identitas budaya dikonstruksi dan dinegosiasikan dalam masyarakat Indramayu. Selama ini, saweran umumnya dipahami sebagai bentuk hiburan dan pemberian uang dalam pertunjukan tradisional. Namun, praktik tersebut juga merupakan praktik budaya yang sarat dengan makna simbolik sebagai media ekspresi, pemeliharaan relasi sosial, dan pembentukan identitas lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode autoetnografi yang menempatkan pengalaman hidup peneliti sebagai sumber utama penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, catatan lapangan reflektif, wawancara mendalam, dan dokumentasi selama keterlibatan peneliti dalam upacara adat Ngarot di Desa Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perspektif antropologi budaya dan konsep modal simbolik Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh dalam praktik saweran tidak hanya berfungsi sebagai media pertunjukan, tetapi juga sebagai arena budaya tempat identitas, pengakuan sosial, dan modal simbolik terus dinegosiasikan, direproduksi, dan dilegitimasi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan dinamis antara tubuh, pertukaran ekonomi, dan tradisi memungkinkan praktik saweran tetap mempertahankan sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat pesisir Indramayu di tengah perubahan sosial dan budaya yang terus berlangsung. Temuan ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik budaya berbasis pengalaman tubuh sebagai mekanisme pelestarian kekuasaan simbolik dan identitas lokal dalam masyarakat kontemporer.

Keywords

autoetnografi; identitas budaya; modal simbolik; Ngarot Lelea; saweran

Full Text:

PDF

References

Agusta, T., Warto, & Supana. (2018). Dampak komodifikasi terhadap perubahan identitas Tari Topeng Hitam. Haluan Sastra Budaya, 1(2), 210–223. https://doi.org/10.20961/hsb.v1i2.11274

Alhaddad, Y. (2025). Sosiologi simbolik tarian Lalayon: Relasi budaya, identitas, dan struktur sosial di Weda, Maluku Utara. JSPH: Jurnal Sosial Politik Humaniora, 2(1), 64–72. https://doi.org/10.59966/jsph.v2i1.2134

Bourdieu, P. (2002). The forms of capital. In N. W. Biggart (Ed.), Readings in economic sociology (pp. 280–291). Malden, MA: Blackwell Publishing. https://doi.org/10.1002/9780470755679.ch15

Bourdieu, P. (2013). Outline of a theory of practice. Cambridge, England: Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511812507

Bourdieu, P. (2015). Arena produksi kultural: Sebuah kajian sosiologi budaya. Yogyakarta, Indonesia: Kreasi Wacana.

Creswell, J. W. (2013). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Dewangga Putra Mahendra, S., & Nurma Halida, A. (2026). Memaknai ekspresi gender: Studi fenomenologis pada performer dance cover K-Pop bergaya androgini. Science and Education Journal (SICEDU), 5(2), 2934–2943. https://doi.org/10.31004/sicedu.v5i2.756

Dinata, B. (2025). Tubuh, gender, dan agensi: Kajian antropologi visual tentang representasi perempuan di media sosial. Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial, dan Multidisiplin, 1(1), 57–71.

Ellis, C., Adams, T. E., & Bochner, A. P. (2011). Autoethnography: An overview. Historical Social Research/Historische Sozialforschung, 36(4), 273–290.

Falah, A. M., Aulia, N. J., & Sugiantoro. (2025). Revitalisasi seni tradisi sebagai objek pemajuan kebudayaan di Desa Sukamaju, Rancakalong, Sumedang. In I. Ridwan (Ed.), Revitalisasi seni tradisi sebagai identitas dan ekonomi kreatif (pp. 19–44). Sumedang, Indonesia: ISBI Bandung.

Ghiland, G., Lattu, I. Y. M., & Tampake, T. R. C. (2025). Eksplorasi dimensi-dimensi lived religion dalam nyanyian Osong Rambu Solo' di Kabupaten Luwu. Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH), 7(1), 29–44. https://doi.org/10.37364/jireh.v7i1.244

Hartono, D., & Sipayung, M. (2024). Dinamika identitas budaya dalam narasi kontemporer: Tantangan dan peluang dalam era globalisasi. MOUSE: Jurnal Humaniora, 1(2), 49–54. https://doi.org/10.69688/mouse.v1i2.152

Haryatmoko. (2015). Membongkar rezim kepastian: Pemikiran kritis post-strukturalis. Yogyakarta, Indonesia: Boekoe Tjap Petroek.

Indrayuda, Syahrul, N., Hertanto, B. R., Wulansari, D. R., Zharfani, D. A., & Ramadhani, M. (2025). Spirit kultural masyarakat dan seniman lokal terhadap popularitas kesenian Randai tradisional di era digitalisasi. Tambo: Journal of Manuscript and Oral Tradition, 3(2), 139–153.

Jamila, R., & Sabri, I. (2025). Habitus as a social framework in Daul music: Bourdieu’s perspective. Acintya: Jurnal Penelitian Seni Budaya, 17(1), 14–29. https://doi.org/10.33153/acy.v17i1.7136

Jenkins, R. (1992). Pierre Bourdieu. London, England: Routledge.

Kurniawan, F. (2018). Analisis persepsi masyarakat terhadap komunitas Peduli Lubang Jalanan di Kota Malang. Simulacra: Jurnal Sosiologi, 1(1), 65–76. https://doi.org/10.21107/sml.v1i1.4987

Leo Anugerah Putra, Zarkasi, A., & Shonhaji. (2025). Mahkota siger masyarakat adat Lampung Pepadun: Simbol identitas, spiritualitas, dan pergeseran makna sosial di era kontemporer. El Tarikh: Journal of History, Culture and Islamic Civilization, 6(2), 142–152. https://doi.org/10.24042/00202562775200

Marsela, M. (2026). Dari motif tradisional ke identitas komersial: Tinjauan literatur tentang komodifikasi warisan visual dalam industri kreatif. Governance: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan, 13(1), 115–122. https://doi.org/10.56015/gjikplp.v13i1.686

Maton, K. (2008). Habitus. In M. Grenfell (Ed.), Pierre Bourdieu: Key concepts (pp. 49–65). Stocksfield, England: Acumen Publishing.

Maulana, A. S., Wargo, W., Munib, A., & Kurniawan, K. (2025). Makna kesejahteraan dalam pandangan masyarakat marjinal: Studi etnografi di kawasan urban miskin. Jurnal Al Mujaddid Humaniora, 11(1), 44–53.

Melia, Y., & Mesra, R. (2025). Transformasi nilai-nilai budaya dan identitas sosial di era globalisasi: Perspektif sosiologis. COMTE: Journal of Sociology Research and Education, 1(6), 268–276. https://doi.org/10.64924/09z86417

Merleau-Ponty, M. (2022). Phenomenology of perception. London, England: Routledge.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: SAGE Publications.

Muhammad Nurul Huda, & Dulmanan, A. A. (2024). Tubuh yang terlibat, konteks, dan objektivitas: Sains sebagai praktik sosial yang manusiawi. Muqoddima: Jurnal Pemikiran dan Riset Sosiologi, 5(2), 139–165. https://doi.org/10.47776/MJPRS.005.02.08

Mustikasari, D. (2026). Fenomenologi musikal dalam tradisi Tarawangsa Sumedang pada era modern. Jurnal Bunyi: Kajian Musik dan Budaya, 1(1), 53–82.

Nurharini, A. (2026). Gerak perempuan urban: Tari Denok Semarangan sebagai representasi identitas budaya Kota Semarang. In Book Chapter Seni Universitas Negeri Semarang (Vol. 3, pp. 1–22). Semarang, Indonesia: Universitas Negeri Semarang.

Nursilah, Gietty, S. M., Setyani, T. I., & Yoesoef, M. (2025). Politik ruang dan komodifikasi Reog Ponorogo: Peralihan dari kesenian rakyat ke festival. Lembaran Antropologi, 4(2), 128–141. https://doi.org/10.22146/la.26317

Pauziah, E., & Indrayuda. (2025). Peran Tari Galombang sebagai legitimasi status bagi masyarakat pengguna di Nagari Tanjung Balik, Kecamatan X Koto Diatas, Kabupaten Solok. Avant-Garde: Jurnal Ilmiah Pendidikan Seni Pertunjukan, 3(1), 66–74.

Pink, S. (2001). Doing visual ethnography: Images, media and representation in research. London, England: SAGE Publications.

Pranawukir, I., Bachtiar, A., Ningsih, T. S., Kusuma, E., Mayasari, S., & Alamsyah, A. (2026). Analisis impression management pelaku love scamming. Cyber PR, 6(1), 113–135.

Purnomo, S. H., Rahmaulidayani, A. R., & Supriyanto, T. (2026). Bentuk simbolik kekerasan Garuda Putih dalam novel Garuda Putih karya Suparto Brata (Kajian sosiologi sastra Pierre Bourdieu). Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya, 8(2), 407–419.

Puspita Ningsih, D., & Suryadmaja, G. (2025). Makna moral dalam aksi: Representasi nilai budaya masyarakat Sasak dalam pertunjukan Presean di Lombok. Patrawidya, 26(1), 91–105.

Raditya, M. H. B. (2022). Sawer: Melampaui ruang dan meluaskan jangkauan interaksi pada pertunjukan dangdut. Paradigma: Jurnal Kajian Budaya, 12(2), 195–210. https://doi.org/10.17510/paradigma.v12i2.776

Rahmawati, A. (2020). Praktik sosial masyarakat Desa Tondowulan dalam tradisi Mayangi di Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang. Paradigma, 9(2), 1–22.

Rizky Shorfana, M., & Luthfi, A. M. (2025). Pelestarian nilai dan simbol Islam–Jawa dalam ruang keagamaan Masjid Menara Kudus: Perspektif Pierre Bourdieu. Batuthah: Jurnal Sejarah Peradaban Islam, 4(2), 149–160. https://doi.org/10.38073/batuthah.v4i2.3136

Santosa, H. (2025). Sosiologi karawitan: Harmoni budaya dalam dinamika sosial. Denpasar, Indonesia: Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali.

Sarah Aulia, N., Rama Dhilah, A., & Universitas Negeri Surabaya. (2024). Kontribusi waria dalam pelestarian seni tradisional di Jawa Timur: Analisis motif dan identitas budaya. In Prosiding Seminar Nasional Universitas Negeri Surabaya. Surabaya, Indonesia: Universitas Negeri Surabaya.

Schechner, R. (2004). Performance theory (Rev. ed.). London, England: Routledge.

Silvia, K. (2025). Ritual dan identitas kolektif: Studi antropologis atas tradisi perkawinan dalam masyarakat urban. Nizamiyah: Jurnal Sains, Sosial, dan Multidisiplin, 1(1), 42–56.

Siti Mubayanah, & Amin, N. (2024). Transformasi makna ritual dalam masyarakat modern: Analisis sosiologis dan budaya. Gahwa, 3(1), 17–33. https://doi.org/10.61815/gahwa.v3i1.473

Spry, T. (2001). Performing autoethnography: An embodied methodological praxis. Qualitative Inquiry, 7(6), 706–732. https://doi.org/10.1177/107780040100700605

Suhaeb, I. (2025). Tawa dan identitas lokal: Figur Kedok Menyon sebagai representasi sosial dalam kesenian Singa Dangdut. Haluan Sastra Budaya, 9(2), 176–192.

Surya Peradantha, I. B. G., Wimba Ruspawati, I. A., Karina, A. E., & Indra Wijaya, K. (2025). Dari pengalaman artistik menuju penelitian ilmiah: Eksplorasi autoetnografi sebagai metode penelitian artistik. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya, 7(2), 312–324. https://doi.org/10.30998/vh.v7i2.13254

Suyoga, I. P. G. (2020). Pemaknaan kembali "keberlanjutan" praktik kultural. SENADA (Seminar Nasional Manajemen, Desain dan Aplikasi Bisnis Teknologi), 3, 31–40.

Takwin, B. (2005). Proyek intelektual Pierre Bourdieu: Melacak asal-usul masyarakat, melampaui oposisi biner dalam ilmu sosial. In R. Harker, C. Mahar, & C. Wilkes (Eds.), Habitus × modal + ranah = praktik: Pengantar paling komprehensif kepada pemikiran Pierre Bourdieu (pp. ix–xxii). Yogyakarta, Indonesia: Jalasutra.

Thomson, P. (2008). Field. In M. Grenfell (Ed.), Pierre Bourdieu: Key concepts (pp. 67–81). Stocksfield, England: Acumen Publishing.

Ulfa, R. (2025). Satai dance as a representation of Barimou Perulai in the Koto Tuo community of Jambi Province: Tari Satai sebagai representasi Barimou Perulai pada masyarakat Koto Tuo Provinsi Jambi. Indonesian Journal of Innovation Studies, 26(3).

Wijaya, T., Amelia, S., & Wargadalem, F. R. (2025). Kearifan lokal: Peranan Tari Kebagh dalam membentuk identitas budaya suku Besemah. Jawi, 8(1), 61–76. https://doi.org/10.24042/00202582720900

Refbacks

  • There are currently no refbacks.