KONSTRUKSI GAYA HIDUP MODERN PEREMPUAN PENGGUNA HOT PANTS DI YOGYAKARTA
Abstract
This research aims to analyze the construction of a modern lifestyle among women in Yogyakarta through the phenomenon of wearing hot pants in the early 2010s. Using a qualitative approach with a case study design, data were collected through non-participant observation and in-depth interviews with five informants within the productive age range. The results indicate that wearing hot pants is not merely a functional fashion choice but a social strategy to achieve distinction and accumulate symbolic capital to be recognized as part of modern urban society. The findings reveal a complex risk negotiation, where subjects experience tension between emotional satisfaction from social validation and anxiety regarding moral stigma or safety risks in public spaces. A comparison with the contemporary Fear of Missing Out (FoMO) phenomenon among adolescents suggests that although the medium of expression has transformed from physical to digital spaces, the fundamental human drive for group recognition remains unchanged. In conclusion, this lifestyle phenomenon is an inevitable part of the "nature of time". This research recommends that educators adopt an "ojo gumunan" (not easily surprised) attitude and continue to prioritize human dignity in responding to the dynamics of social change within the educational environment.
Keywords: Lifestyle, Hot Pants, Distinction, Ojo Gumunan, Sociology of Fashion
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi gaya hidup modern pada perempuan di Yogyakarta melalui fenomena penggunaan hot pants pada awal dekade 2010-an. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan dan wawancara mendalam terhadap lima orang informan dalam rentang usia produktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan hot pants bukan sekadar pilihan busana fungsional, melainkan strategi sosial untuk meraih distingsi dan akumulasi modal simbolik agar diakui sebagai bagian dari masyarakat urban yang modern. Temuan riset mengungkap adanya negosiasi risiko yang kompleks, di mana subjek mengalami ketegangan antara kepuasan emosional atas validasi sosial dengan kecemasan terhadap stigma asusila maupun risiko keamanan di ruang publik. Perbandingan dengan fenomena Fear of Missing Out (FoMO) pada remaja masa kini menunjukkan bahwa meskipun media ekspresinya telah bertransformasi dari ruang fisik ke ruang digital, dorongan dasar manusia untuk mendapatkan pengakuan kelompok tetaplah sama. Kesimpulannya, fenomena gaya hidup ini merupakan bagian dari kodrat zaman yang harus disikapi secara bijaksana. Riset ini merekomendasikan agar pendidik memiliki sikap “ojo gumunan” (tidak mudah heran) dan tetap mengedepankan martabat kemanusiaan dalam merespons dinamika perubahan sosial di lingkungan pendidikan.
Kata Kunci: Gaya Hidup, Hot Pants, Distingsi, Ojo Gumunan, Sosiologi Busana.
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Adib, A., & Hendrastomo, G. (2016). Perilaku Konsumsi Fashion di Kalangan Remaja di Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Sosiologi, 5(2). https://journal.student.uny.ac.id/ojs/societas/article/download/9094/8765
Barnard, M. (2011). Fashion sebagai Komunikasi (I. S. Ibrahim, Terj.). Yogyakarta: Jalasutra.
Bourdieu, P. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (R. Nice, Trans.). Cambridge: Harvard University Press. https://monoskop.org/images/e/e0/Pierre_Bourdieu_Distinction_A_Social_Critique_of_the_Judgement_of_Taste_1984.pdf
Featherstone, M. (2008). Posmodernisme dan Budaya Konsumen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suryandari, N., (2016), Dramaturgi Identitas Diri di Media Sosial, dalam Surokim & T. Handaka (Eds.), Media Lokal: Kontestasi, Trend, Dinamika, dan Suara Media Arus Bawah Madura, Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Publik Prodi Ilmu Komunikasi FISIB Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan. https://komunikasi.trunojoyo.ac.id/wp-content/uploads/2021/04/Book-chapter-media-lokal-Dramaturgi-.pdf
Khaldun, A. R. M. (2011). Mukaddimah Ibnu Khaldun (M. Irham, M. Supar, & A. Zuhri, Terj.). Pustaka Al-Kautsar. (Karya asli diterbitkan tahun 1377).
Kristanto, J. B. (2007). Katalog Film Indonesia 1926-2007. Jakarta: Nalar.
Maahirah, L. (2023). Genderless Fashion sebagai Cara Mengekspresikan Diri (Skripsi). Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/47176/19321210.pdf?sequence=1&isAllowed=y
Maharani, S., & Hendrastomo, G. (2023). Peran Beauty Vlogger dalam Membentuk Habitus Kecantikan di Era Digital. Jurnal Sosiologi Reflektif. https://jurnal.uny.ac.id/index.php/dimensia/article/download/59264/19032
Nasrowi, B. M. (2017). Konsep Pendidikan Islam Perspektif Kitab Muqaddimah Ibnu Khaldun. STUDI ARAB: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab, 8(2), 173-184. https://doi.org/10.35891/sa.v8i2.1763
Ramadhani, F. M., & Erisna, F. K. (2025). Takut Ketinggalan, Takut Tak Diakui: Fenomena FoMO sebagai Konformitas Sosial Siswa Madrasah Pengguna Instagram dan Game Online [Laporan Penelitian OPSI tidak diterbitkan]. MAN 2 Kulon Progo.
Saleh, A. A. (2020). Psikologi Sosial. IAIN Parepare Nusantara Press. https://repository.iainpare.ac.id/id/eprint/3342/1/PSIKOLOGI%20SOSIAL.pdf
Soekanto, S. (2006). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sumartono, & Astuti, H. (2013). Terpaan Drama Korea dan Perilaku Fashion Di Kalangan Mahasiswi FIKOM Ubhara Jaya. Jurnal Komunikasi, 4(2). https://komunikologi.esaunggul.ac.id/index.php/KM/article/download/133/133
Wiryopranoto, S., Herlina, N., Marihandono, D., & Tangkilisan, Y. B. (2017). Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya. (D. Marihandono, Ed.). Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional. https://repositori.kemendikdasmen.go.id/4881/1/Buku%20Ki%20Hajar%20Dewantara.pdf
Wolf, N. (2002). Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan. Yogyakarta: Niagara.
Yunita, N. I. (2023). Gaya Berpakaian Remaja Perempuan di Surabaya Pada Tahun 2000-2010. AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, 11(1). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/56642/44489
Refbacks
- There are currently no refbacks.
.png)
.png)


