Warisan Kolonial dan Identitas Pariwisata Heritage Bandung: Citra Paris van Java
Abstract
Bandung merupakan salah satu kota tujuan pariwisata utama di Indonesia dengan berbagai macam daya tarik, mulai dari wisata alam, kuliner, belanja, hingga citra sebagai kota fashion dan gaya hidup. Hal tersebut membentuk persepsi Bandung sebagai kota modern, kreatif, dan konsumtif yang terus berkembang. Di sisi lain, Bandung juga menyimpan warisan kolonial yang kuat, terutama melalui keberadaan bangunan-bangunan bersejarah di kawasan Asia Afrika dan Jalan Braga. Keberadaan arsitektur kolonial bergaya Art Deco dan Indische menjadi penanda penting lahirnya julukan Paris van Java serta membangun identitas visual Bandung pada masa kolonial yang membentuk struktur ruang, estetika kota, serta identitas Bandung. Namun semakin berjalannya waktu dan berkembang pesatnya dunia, bangunan kolonial tersebut cenderung mengalami pergeseran makna. Warisan bangunan kolonial tersebut kerap diposisikan sebagai objek pariwisata dan aktivitas ekonomi, sementara nilai sejarah serta konteks kolonial yang melekat di dalamnya semakin jarang dipahami oleh masyarakat. Minimnya pemahaman sejarah di kalangan masyarakat, keterbatasan media interpretasi sejarah, rendahnya kesadaran sejarah pada masyarakat, serta mendominasinya kepentingan pasar dalam kawasan heritage. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara popularitas Bandung sebagai kota pariwisata dan kesadaran historis terhadap warisan kolonialnya, yang berpotensi mengaburkan julukan Paris Van Java sebagai identitas kota hanya sekedar menjadi simbol visual tanpa pemaknaan sejarah yang mendalam.
Full Text:
PDFReferences
Carr, E.H. (1964). What is History. Penguin Books.
Danudara, A. B. (2017). Perencanaan Produk Paket Wisata Heritage di Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung. Jurnal Kepariwisataan: Destinasi, Hospitalitas Dan Perjalanan, 1(1), 10-24.
Fakih, F. (2021). Colonial domesticity and the modern city: Bandung in the early twentiethcentury Netherlands Indies. Journal of Urban History, 49(3), 645–667.
Handinoto,. (1993). Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940). Jurnal Dimensi Arsitektur vol. 19. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra Download; 18/11/09: 05.00.
Hardjasaputra, H., & Tumilar, S. (2002). Model Penunjang dan Pengikat (Strut-and-Tie Model) Pada Perancangan Struktur Beton. Penerbit Universitas Pelita Harapan, Jakarta, Agustus
Handinoto. (2012). Arsitektur dan Kota-Kota di Jawa pada masa Kolonial. Yogyajakta: Graha Ilmu.
Indahsari, N. D., Subianto, A., & Tamrin, M. H. (2022). Kemitraan Stakeholders dalam Pengelolaan Jalur Wisata Heritage Trainz Loko Tour Cepu di Kabupaten Blora. Reformasi, 12(Desember), 303–316.
Kunto, Haryoto. (1986). Semerbak Bunga di Bandung Raya. Bandung: Granesia.
Kunto, H. (2014). Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung: Granesia.
Katam, S. (2017). Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950. Dunia Pustaka Jaya.
.Ma’mur, T. (2006). Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Sejarah Melalui Historical Thingking. Historia Jurnal Pendidikan Sejarah UPI, 1(2), 6–7. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/196808281998021-TARUNASENA/artikel/Makalah_Historical_Thinking_(untuk_70_thn_Prof_Helius).
Pramayogi, I., Puji, R. P. N., & Hartanto, W. (2019). INOVASI DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH. Sindang; Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Kajian Sejarah, 1(2), 17–22. https://doi.org/https://doi.org/10.31540/sdg.v1i2.257
Sartono Kartodirdj. (1993). Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Daro Emporium Sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Refbacks
- There are currently no refbacks.

