Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dalam Konten Terkonfirmasi Hoaks pada Situs Web Komdigi (Violations of the Cooperative Principle in Hoax Content Verified by the Ministry of Communication and Digital Affairs (Komdigi))

Dini Febriani, Dhesti Qorita Ayun, Puteri Syanti Dewi Islami, Sumarlam Sumarlam

Abstract

This study examines violations of Grice’s Cooperative Principle in three pieces of content confirmed as hoaxes on the Komdigi website in its May 8, 2026, edition. The study employs a qualitative method with a pragmatic approach. Data collection was conducted through observation and note-taking techniques on the transcriptions of the three hoax content pieces, while data analysis involved identifying and classifying violations of the four maxims of the Cooperative Principles. The results of the study found a total of 16 violations spread across the four maxims: the maxim of quantity was the most frequently violated with six violations, followed by the maxim of quality with four violations, and the maxims of relevance and manner with three violations each. The hoax content regarding foreign ship tariffs in the Malacca Strait recorded the most violations with seven, followed by the TB vaccine hoax with five violations, and the Donald Trump video hoax with four violations. This study concludes that violations of the principle of cooperation in hoax content constitute a deliberate linguistic strategy to manipulate information, exploit the audience’s emotions, and sway public opinion without support from verifiable facts.

Penelitian ini mengkaji pelanggaran prinsip kerja sama Grice dalam tiga konten yang telah terkonfirmasi hoaks pada situs web Komdigi edisi 8 Mei 2026. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dan teknik catat terhadap transkripsi teks ketiga konten hoaks, sedangkan analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi dan mengklasifikasikan pelanggaran keempat maksim prinsip kerja sama. Hasil penelitian menemukan total 16 pelanggaran yang tersebar pada empat maksim, maksim kuantitas menjadi yang paling banyak dilanggar dengan enam pelanggaran, diikuti maksim kualitas dengan empat pelanggaran, serta maksim relevansi dan maksim cara masing-masing tiga pelanggaran. Konten hoaks tarif kapal asing di Selat Malaka mencatatkan pelanggaran terbanyak dengan tujuh pelanggaran, disusul hoaks vaksin TBC dengan lima pelanggaran, dan hoaks video Donald Trump dengan empat pelanggaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelanggaran prinsip kerja sama dalam konten hoaks merupakan strategi kebahasaan yang disengaja untuk memanipulasi informasi, mengeksploitasi emosi audiens, serta menggiring opini publik tanpa dukungan fakta yang dapat diverifikasi.

 

Keywords

hoaks; linguistik forensik; pelanggaran maksim; pragmatik; prinsip kerja sama

Full Text:

PDF

References

Al Affan, A. (2026). False realities: Hoaxes on the Palestine–Israel conflict in Indonesia’s digital media. Priviet Social Sciences Journal, 6(4), 1–13. https://doi.org/10.55942/pssj.v6i4.1431

Adelawati, M., & Arimi, S. (2025). Tindak tutur tidak literal pada pelanggaran UU ITE dalam kasus Lina Mukherjee: Analisis linguistik forensik. Semantik, 14(1), 113–126. https://doi.org/10.22460/semantik.v14i1.p113-126

Arianto, A. K. (2021). Dugaan hoaks seputar vaksin COVID-19 di Indonesia dalam kerangka linguistik forensik. In Prosiding Seminar Nasional: Arah Kebijakan Pendidikan dan Kajian Riset di Era New Normal (Vol. 3, No. 1, pp. 115–129). Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Djelema, S., Abdullah, F. A., & Irawati, W. O., (2025). Linguistik forensik: Ujaran kebencian dalam kasus Yai Mim dan Sahara di Tiktok. INOMATEC: Jurnal Inovasi dan Kajian Multidisipliner Kontemporer, 1(2), 338-347.

Fatahuddin, F., Iswary, E., & Saleh, F. (2024). Tindak tutur asertif pencemaran nama baik di sosial media. Jurnal Idiomatik: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. https://doi.org/10.46918/idiomatik.v5i1.1412

Grice, H. P. (1975). Logic and conversation. In P. Cole & J. L. Morgan (Eds.), Syntax and semantics: Vol. 3. Speech acts (pp. 41–58). Academic Press.

Halid, R. (2022). Tindak tutur pelaku pencemaran nama baik di media sosial kajian linguistik forensik. KREDO: Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra, 5(2), 441–458. https://doi.org/10.24176/kredo.v5i2.6342

Handayani, N., Amir, J., & Juanda. (2021). Kasus hoaks pandemi COVID-19: Suatu tinjauan linguistik forensik. Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 17(2), 169–177. https://doi.org/10.25134/fon.v17i2.4432

Igwebuike, E. E., & Chimuanya, L. (2021). Legitimating falsehood in social media discourse: A discourse analysis of political fake news. Discourse & Communication, 15(1), 42–58. https://doi.org/10.1177/1750481320961659

Jannah, M., Munirah, M., & Munir, A. (2024). Tindak tutur pada berita acara pemeriksaan sebagai penegakan hukum yang setara dan berkeadilan (kajian linguistik forensik). Jurnal Riset Guru Indonesia, 3(1), 32–38. https://doi.org/10.62388/jrgi.v3i1.401

Lewandowsky, S., & van der Linden, S. (2021). Countering misinformation and fake news through inoculation and prebunking. European Review of Social Psychology, 32(2), 348–384.https://doi.org/10.1080/10463283.2021.1876983

Mahyoob, M., Algaraady, J., & Albloly, A. (2021). Linguistic-based detection of fake news in social media. International Journal of English Linguistics, 11(1).https://doi.org/10.5539/ijel.v11n1p

Nasrullah, R. (2015). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Olsson, J. (2004). Forensic linguistics: An introduction to language, crime and the law. London: Continuum.

Panjaitan, R. S., Hutabarat, G. E., Simaremare, T. T., Aprilia, M., Salwa, M., Puspitarini, H., & Gafari, M. O. F. (2026). Interpretasi pragmatik kontroversi kakek penjual es gabus dalam wacana digital. Pragmatik: Jurnal Rumpun Ilmu Bahasa dan Pendidikan, 4(2), 149–160. https://doi.org/10.61132/pragmatik.v4i2.2615

Putri, A. Y., Sholikhah, H. A., Nuzula, K., Prasetyo, C. T., & Fikri. (2025). Ketakutan yang direkayasa: Analisis linguistik forensik atas hoaks "Petrus" dalam pesan WhatsApp. In Prosiding SENALA: Seminar Nasional Linguistik Indonesia, 75–83.

Rahmawati, D., et al. (2021). Mapping disinformation during the Covid-19 in Indonesia: Qualitative content analysis. Jurnal ASPIKOM, 6(2).https://doi.org/10.24329/aspikom.v6i2.907

Rohim, A., & Alimudin. (2026). Social communication and digital literacy strategies for preventing hoaxes in urban and semi-urban Indonesia. Frontiers in Communication.https://doi.org/10.3389/fcomm.2026.1816038

Sabrina, F., Alpris, Z., Aprilia, S., Sihite, Y., Syarifah, R., Puspitarini, H., & Gafari, M. O. F. (2026). Kegagalan felicity conditions dan pelanggaran maksim Grice dalam tuturan fitnah aparat: Studi kasus Sudrajat es gabus. Mesada: Journal of Innovative Research, 3(1), 147–155.https://doi.org/10.61253/wfpmgm34

Sari, R. P., Boeriswati, E., & Anwar, M. (2025). Detecting hoax news on social media through pragmatic analysis. Proceeding of International Seminar on Humanity, Education, and Language, 1(1), 865–876.https://doi.org/10.21009/ishel.v1i1.56469

Shabrina, S. N., Zamzani, & Setiawan, T. (2022). Analisis teks hoaks seputar informasi bank: Kajian bahasa perspektif analisis wacana kritis dan linguistik forensik. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 8(2), 492–507. https://doi.org/10.22219/kembara.v8i2.21478

Sholihatin, E. (2019). Linguistik forensik dan kejahatan berbahasa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Subyantoro. (2017). Linguistik forensik: Sebuah pengantar. Semarang: CV Farishma Indonesia.

Sudaryanto. (2015). Metode dan aneka teknik analisis bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Ubaidillah. (2024). Politik hoaks dan hoaks politik di Indonesia. BRIN Publishing. https://doi.org/10.55981/brin.790

Utami, N. M. V., Jayantini, I. G. A. S. R., & Ariyaningsih, N. N. D. (2024). Pencemaran nama baik oleh Marissya Icha terhadap Medina Zein: Kajian linguistik forensik. In Prosiding SENALISA: Seminar Nasional Linguistik dan Sastra, 291–301.

Yule, G. (1996). Pragmatics. Oxford University Press.