Penilaian kemampuan daerah resapan air di Kelurahan Wai Mhorock, Kota Jayapura dengan metode Weighted Overlay

Arya Yusril Akbar Kusumah, Respati Wikantiyoso, Nurul Aini

Abstract

Kota Jayapura sebagai Ibu Kota Provinsi Papua mengalami peningkatan kebutuhan lahan akibat pertumbuhan penduduk dan urbanisasi yang pesat, sehingga berpotensi mengurangi kemampuan daerah resapan air. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran kondisi daerah resapan air di Kelurahan Wai Mhorock, Distrik Abepura, dengan menggunakan metode kuantitatif melalui analisis Weighted Overlay dengan GIS berbasis empat parameter utama, yaitu penggunaan lahan, kemiringan lahan, jenis tanah, dan curah hujan. Analisis dilakukan dengan menggunakan skor dan bobot sesuai pedoman RTkRLH-DAS, kemudian diolah dengan weighted overlay untuk menghasilkan peta kemampuan daerah resapan air pada setiap kategori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kelurahan Wai Mhorock termasuk pada kategori kondisi daerah resapan air normal alami seluas 147,3 Ha (74,23%), sedangkan area dengan kondisi baik seluas 45,29 Ha (22,82%). Kedua kategori tersebut perlu dipertahankan sebagai kawasan prioritas konservasi resapan air yang didukung oleh penggunaan lahan non-terbangun yang dominan. Sebaliknya, area dengan kondisi mulai kritis hingga sangat kritis hanya menempati proporsi yang kecil dan terkonsentrasi pada zona dengan kemiringan lebih curam dan pemanfaatan lahan terbangun. Hasil pemetaan ini menyediakan informasi spasial yang penting untuk mendukung perencanaan tata ruang, pengendalian banjir, serta kebijakan konservasi daerah resapan air guna mewujudkan pembangunan perkotaan yang lebih berkelanjutan di Kelurahan Wai Mhorock, Kota Jayapura.


Assessment of water catchment area capability in Wai Mhorock, Jayapura, using Weighted Overlay

Jayapura City, the capital of Papua Province, has experienced increasing land demand due to rapid population growth and urbanization, which may reduce the capacity of water catchment areas. This study aims to analyze the spatial distribution of water catchment area conditions in Wai Mhorock Urban Village, Abepura District, using a quantitative approach through Spatial Analysis with the Weighted Overlay method in a Geographic Information System (GIS) based on four key parameters: land use, slope, soil type, and rainfall. The analysis applied scoring and weighting procedures based on the RTkRLH-DAS guidelines, followed by a Weighted Overlay analysis to produce a thematic map of water catchment area capability for each classification category. The results indicate that most of Wai Mhorock Urban Village falls within the natural water catchment condition category, covering 147.3 ha (74.23%), while 45.29 ha (22.82%) is classified as having good water catchment conditions. These two categories should be maintained as priority areas for water catchment conservation due to the predominance of non-built-up land. In contrast, areas classified as moderately critical to very critical occupy only a small proportion of the study area and are concentrated in zones characterized by steeper slopes and built-up land use. The resulting spatial distribution map provides essential information to support spatial planning, flood mitigation, and water catchment conservation policies, thereby contributing to more sustainable urban development in Wai Mhorock Urban Village, Jayapura City.

Keywords

Geographic Information System; Physical Characteristic of Land; Water Catchment Area; Weighted Overlay

Full Text:

PDF

References

[1]Pemerintah Kota Jayapura. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Jayapura 2013-2033. 2013.

[2]BPBD Kabupaten Bogor. Potensi Bencana Banjir Hingga Awal Oktober 2022, BNPB Minta Maysarakat Waspada. BPBD Kabupaten Bogor 2022.

[3]Subki RM. Dampak Pertumbuhan Penduduk Terhadap Perkembangan Ruang Kota Sangatta. Jurnal Arsitektur Zonasi 2018;1:16–26. https://doi.org/10.17509/jaz.v1i1.11532.

[1]Pemerintah Kota Jayapura. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Jayapura 2013-2033. 2013.

[2]BPBD Kabupaten Bogor. Potensi Bencana Banjir Hingga Awal Oktober 2022, BNPB Minta Maysarakat Waspada. BPBD Kabupaten Bogor 2022.

[3]Subki RM. Dampak Pertumbuhan Penduduk Terhadap Perkembangan Ruang Kota Sangatta. Jurnal Arsitektur Zonasi 2018;1:16–26. https://doi.org/10.17509/jaz.v1i1.11532.

[4]Ridwan M, Sarjito J. Studi Kajian Dampak Perubahan Tutupan Lahan terhadap Kejadian Banjir di Daerah Aliran Sungai. Enviro: Journal of Tropical Environmental Research 2024;26:38. https://doi.org/10.20961/enviro.v26i1.93145.

[5]Gunawan SA, Prasetyo Y, Amarrohman FJ. Studi penentuan kawasan resapan air pada wilayah DAS banjir kanal timur. Jurnal Geodesi Undip 2016;5:125–35.

[6]Hastono FD, Sudarsono B, Sasmito B. Identifikasi daerah resapan air dengan sistem informasi geografis (Studi Kasus: Sub DAS Keduang). Jurnal Geodesi UNDIP 2012;1.

[7]Asmara FI. Evaluasi Sistem Drainase Sebagai Upaya Penanggulangan Banjir Di Daerah Youtefa, Kota Jayapura (Drainage System Evaluation As A Flood Management Effort In The Youtefa Area, Jayapura City). Skripsi. Universitas Islam Indonesia, 2023.

[8]Sagala DA, Wike W, Danar OR. Analisis Implementasi Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana dalam Perspektif Sistem-Ekologi Sosial. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik 2021;007:1–9. https://doi.org/10.21776/ub.jiap.2021.007.01.1.

[9]Lawene CL, Tondobala L, Mononimbar W. Pengembangan kawasan permukiman di Kota Jayapura. Spasial 2017;4.

[10]Ngaderman T, Rumabar A, Mini M, Zebua M. Konservasi Wilayah Recharge Daerah Air Tanah Dan Wilayah Pelepasan Berbasis Doyo Baru Jayapura. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 2023;9. https://doi.org/10.5281/zenodo.10034235.

[11]Patodingm MA, Simbiak IT, Beatrick MY. Analisis Ketahanan Kota Terhadap Bencana Banjir Di Kota Jayapura. Jurnal Wilayah, Kota Dan Lingkungan Berkelanjutan 2022;1:11–25. https://doi.org/10.58169/jwikal.v1i1.30.

[12]Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta; 2015.

[13]Wibowo M. Model Penetuan Kawasan Resapan Air untuk Perencanaan Tata Ruang Berwawasan Lingkungan. Jurnal Hidrosfir Indonesia 2006;1.

[14]Setianingrum R. Analisis Kondisi Resapan Air Kabupaten Sukoharjo Tahun 1997-2006 Dengan Memanfaatkan Sistem Informasi Geografis. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2008.

[15]Adibah N, Kahar S, Sasmito B. Aplikasi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk analisis daerah resapan air (studi kasus: Kota Pekalongan). Jurnal Geodesi Undip 2013;2.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.