CIRI PROSODI KESANTUNAN BERBAHASA DALAM INTERAKSI INSTRUKSIONAL GURU SD DI SURABAYA

Agung Pramujiono

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan ciri prosodi kesantunan berbahasa dalam intreraksi instruksional duru SD di Surabaya yang meliputi ciri prosodi kesantunan ujaran bermodus deklaratif, interogatif, dan imperatif. Data penelitian ini berupa aspek prosodi ujaran guru SD dalam pembelajaran yang menggambarkan intensitas suara, durasi dan kecepatan suara, nada, dan intonasi akhir ujaran. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak bebas libat cakap (SBLC) dengan teknik rekam. Sumber data penelitian ini adalah wacana instruksional dalam pembelajaran empat SD di Surabaya. Analisis data dilakukan dengan teknik akustik menggunakan peranti PRAAT. Berdasarkan analisis akustik diketahui ciri prosodi kesantunan ujaran bermodus deklaratif, intensitas: rerata 75,58; terendah 67,76; tertinggi 80,14. Durasi: rerata 4,79; terendah 1,1; tertinggi 9,8. Kecepatan suara:  rerata 0,28;  terendah 0.102; tertinggi 0,902. Nada: rerata 250,50; terendah 165,3; tertinggi 365,3. Sebagian besar berintonasi akhir turun (49%).  Ciri prosodi kesantunan ujaran bermodus interogatif, intensitas: rerata 76,84; terendah 69,7; tertinggi 80,82. Durasi: rerata 3,22; terendah 0,68; tertinggi 9,63. Aspek kecepatan suara:  rerata 0,44;  terendah 0.104; tertinggi 1,464. Nada: rerata 247,26; terendah 147,8; tertinggi 440,7. Sebagian besar berintonasi akhir turun (65%). Ciri prosodi kesantunan ujaran bermodus imperatif: intensitas rerata 77,06; terendah 67,41; tertinggi 81,44. Durasi: rerata 3,52; terendah 0,61; tertinggi 9,01. Kecepatan suara:  rerata 0,42;  terendah 0,111; tertinggi 1,637. Nada: rerata 267,96; terendah 162,6; tertinggi 405,7. Sebagian besar berintonasi akhir turun (59,45%)

Kata kunci: ciri prosodi, kesantunan berbahasa, interaksi instruksional guru

Full Text:

PDF

References

Brown, P. dan Levinson, S.C. 1987. Politeness Some Universals in Language Usage. New York: Cambridge University Press.

Cullpeper, J. 2003. “Impoliteness revisited: with spescial reference to dynamic and prosodic aspects” dalam Journal of Pragmatics. Volume 35 diunduh dari http://www.scribd.com/ 20 November 2010.

Fairclough, N. 1989. Language and Power. London: Longman.

Gabriel, J.F. 1996. Fisika Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Halim, A. 1984. intonasi dalam hubungannya dengan sintaksis bahasa indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Ito, M. 1998. Japanese Politeness and Suprasegmentals – a Study based on Natural Speech Materials diunduh dari htttp://citeseerx,ist.psu.edu/ 20 November 2010.

Kridalaksana, H. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Leech, G. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. (Penerjemah M.D.D. Oka.) Jakarta: UI Press.

Lickona, T. 1992. Educating for Character How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: A Bantam Book Publishing History.

Natalia, D. M. 2012. Waduh, Siswa Sekolah Menengah Rentan Alami Kekerasan Verbal dan Nonverbal! dalam http://gaul.solopos.com/ diunduh 15 Februari 2013.

Nygaard, L.C., Herold, D.S., and Namy, L.L. 2008. “The Semantic of Prosody: Acoustic Perceptual Evidence of Prosodic Correlates to Word Meaning” dalam Cognitive Science Vol. 33 Tahun 2008 hal. 127-146.

Rahardi, K. 2000. Imperatif dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Samani, M. dan Hariyanto. 2011. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Rosda dan Unesa.

Stadler, S.A. 2006. Multimodal (Im)politeness: The Verbal, Prosodic and Non-Verbal Realization of Disagreement in German and New Zealand English. (Disertasi The Univesity of Auckland dan Universitat Hamburg, tidak dipublikasikan).

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sugiyono. 2003. Pedoman Penelitian Bahasa Lisan: Fonetik. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Surya, M. 2006. Percikan Perjuangan Guru menuju Guru Profesional, Sejahtera, dan Terlindungi. Jakarta: Pustaka Bani Quraisy.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.