Prospek Pengembangan RamuanAnti Malaria Terstandar Berbasis Etnomedisin Masyarakat Kesultanan Jailolo

M. Nasir Tamalene, Bahtiar Bahtiar, Suparman Suparman

Abstract

Upaya mencari obat baru untuk mengobati penyakit malaria di negara Indonesia telah dilakukan, dimana banyak daerah endemis di Indonesia masih dijumpai penyakit Malaria seperti wilayah kepulauan Papua dan Maluku.Berbagai etnis di Indonesia memiliki khasanah budaya yang berbeda.Pada setiap etnis, terdapat beranekaragam kearifan lokal masyarakat, termasuk di dalamnya adalah pemanfaatan tumbuhan untuk pengobatan tradisional.Masyarakat adat kesultanan Jailolo merupakan salah satu etnis yang masih menggunakan tanaman sebagai obat tradisional.Pengetahuan lokal ini merupakan potensi untuk pengembangan obat dan ramuan anti malaria baru terstandar.Kebijakan terhadap pengembangan ramuan obat ini perlu dilakukan untuk menghindari maraknya Biopiracy dan Intellectual Property yang dilakukan oleh pihak luar terhadap kekayaan plasma nutfah Indonesia. Tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai ramuan obat anti Malaria masyarakat adat Kesultanan Jailolo yaitu tumbuhan Justicia ganarussa, Alstonia scholais L. Carica papaya L. Orthosiphon aristatus, Tinospora crispa  Miers, Lansium domesticum, Ficus septica Brum L.Phyllanthus niruri L. dan Curcuma domestica Val.. Temuan penelitian ini yaitu masyarakat memanfaatkan 9 tumbuhan obat yang diramu dalam tiga ramuan campuran dan enam ramuan tunggal.

Keywords

tanaman obat, anti malaria, masyarakat adat Kesultanan Jailolo

Full Text:

PDF

References

Arihan, O., & Gençler, A. M. (2007). Traditional Medicine And Intellectual Property Rights Geleneksel Tip Ve F I Kr I Mülk I Yet Haklari Hacettepe University , Faculty of Medicine , Department of Pharmacology , 06100 , S ı hhiye – Ankara , TURKEY Ankara University , Faculty of Pharmacy , Dep, 36(2), 135–151.

Berkes, Fikret, and N Turner (2004).Knowledge, Learning and the Resilience of Social-Ecological Systems. Evolution (August): 1–17.

Botsaris, Alexandros S (2007). Plants Used Traditionally to Treat Malaria in Brazil: The Archives of Flora Medicinal.Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine 3.

Cordell, G. a(1995). Review Article Number 109: Changing Strategies in Natural Products Chemistry. Phytochemistry 40(6): 1585–1612.

First Annual Public Health Forum, Malaria –Waiting for the Vaccine, 1991, London School for Hygiene and Tropical Medicine.

Hartanto, S., Sofiyanti, N., & Artikel, I. (2014). Biosaintifika, 6(2), 98–108. https://doi.org/10.15294/biosaintifika.v6i2.3105

Jäger, Anna K(2005) Is Traditional Medicine Better off 25 Years Later? Journal of Ethnopharmacology 100(1–2): 3–4.

Kepmenkes, 2009. Keputusan Menteri Kesehatan RI, no 293/MENKES/SK/IV/2009, Eliminasi Malaria di Indonesia, 28 April 2009.

Kemenkes. 2007. Pedoman Program Nasional Pengendaliaan Malaria di Indonesia (2007–2029), Direktorat Penegendalian Penyakit Bersumber Binatang, Ditjen PP & LP, 2007

Manderson L and Aab P. 1992. An epidemic in the field?Rapid assessment procedures and health research.Sm. Sci.M ed. Vol. 35,N o. 7,p p.8 39-850.

Nurrani, L. (2013). Pemanfaatan tradisional tumbuhan alam berkhasiat obat oleh masyarakat di sekitar cagar alam tangale, 1–22.

Njoroge, G. N., & Bussmann, R. W. (2006). Diversity and utilization of antimalarial ethnophytotherapeutic remedies among the Kikuyus (Central Kenya). Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine, 2, 1–7. https://doi.org/10.1186/1746-4269-2-8

Nanyingi, Mark O., James M. Mbaria, Adamson L. Lanyasunya, et al. (2008). Ethnopharmacological Survey of Samburu District, Kenya. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine 4: 1–12

Pieroni A. 2001. Evaluation of the cultural significances of wild food botanicals traditionally consumed in Northwestern Tuscany Italy, Journal of Ethnobiology, (Online), 1 (21): 189-194, (http://www.ethnobioconservation.com) diakses 6 September 2014.

Teklehaymanot, Tilahun, and Mirutse Giday(2007). Ethnobotanical Study of Medicinal Plants Used by People in Zegie Peninsula, Northwestern Ethiopia.Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine 3: 1–11.

Turnner, N.J. 1988. “The Importance of a Rose”: Evaluating the Cultural Significance of Plants in Thompson and Lillooet Interior Salish. Royal British Columbia Museum, British. 274p.

Q’eqchi’ Maya Reproductive Ethnomedicine - Jillian De Gezelle - Google Buku. (2014).

Tamalene, M. N., Al Muhdhar, M. H. I., Suarsini, E., & Rohman, F. (2016). Study of ethnobotany of medicinal plant of Tobelo Dalam (Togutil) ethnic group of Halmahera Island, Indonesia. Medicinal Plants, 8(2). https://doi.org/10.5958/0975-6892.2016.00016.2.

Tamalene, M. N., & Almudhar, M. H. I. (2017). Local knowledge of management system of forest ecosystem by Togutil Ethnic group on Halmahera Island, Indonesia: Traditional utilization and conservation. International Journal of Conservation Science, 8(3).

Zamzami, L. (2013). Sukerei Mentawai: Keseharian dan Tradisi Pengetahuan Lokal yang Digerus oleh Zaman. Antropologi Indonesia; Indonesian Journal of Social and Cultural Anthropology, 34(1), 29–40.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.