ANALISIS POTENSI DEMAND, ABILITY TO PAY (ATP) DAN WILLINGNESS TO PAY (WTP) BATIK SOLO TRANS (BST) KORIDOR 6 PADA PERTOKOAN

Budi Yulianto, Amirotul M.H., M Rafli Falah Wijawa

Abstract

Kota Surakarta merupakan kota yang sedang dalam perkembangan dan pertumbuhan yang cukup cepat, salah satu sarana penting untuk mendukung perkembangan ini adalah pada bidang transportasi. Untuk mendukung peningkatan layanan angkutan umum di bidang transportasi agar masyarakat lebih efisien dan memadai dalam melakukan perpindahan, pemerintah kota bekerjasama dengan Dinas Perhubungan membuat sarana transportasi angkutan umum massal yang memiliki nama Batik Solo Trans (BST). Pada penelitian ini, dilakukan analisis potensi demand, ability to pay (ATP) dan willingness to pay (WTP) dari BST koridor 6 pada sektor pertokoan. Pemilihan koridor 6 BST karena koridor ini merupakan koridor baru yang melewati cukup banyak pertokoan sehingga memiliki tarikan perjalanan yang cukup besar dan terdapat potensi demand penumpang yang tinggi. Oleh karena itu diperlukan penelitian analisis besaran tarif pada koridor 6 BST yang sesuai dengan fungsi guna lahan pertokoan di koridor 6. Pada penelitian ini digunakan metode survei,  data dalam penelitian ini dibagi menjadi 2 yaitu data primer dan sekunder. Data primer merupakan data yang didapatkan dari hasil kuisioner yang telah disebarkan pada pegawai pertokoan. Data sekunder pada panelitian ini didapat melalui instansi-intansi terkait, dan jumlah populasi pegawai tiap pertokoan yang disurvei.  Berdasarkan hasil analisis survei, diperoleh jumlah populasi pegawai pertokoan sepanjang rute BST koridor 6 sebanyak 774 orang. Nilai potensi demand yang didapat dari total pertokoan adalah 549 orang, dengan rincian 170 orang sudah menggunakan BST dan 379 orang yang berpotensial akan menggunakan BST. Nilai ATP secara keseluruhan adalah Rp 4.872,08. Nilai WTP secara keseluruhan adalah Rp 3.273,41.

References

Batik Solo Trans. (2022, Maret 09). Di Wikipedia, Ensiklopedia Bebas. Diakses pada 15.34, Maret 08, 2002, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Batik_Solo_Trans. Dardela Yasa Guna, 2009, Ability to Pay (ATP)/Willingness to Pay (WTP), Dardela Yasa Guna Enginering Consultant, http://www.dardela.com/index.php?option=com_content&task=view&id=87&Itemid=46, diakses pada 14 Mei 2022. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat. 1996. Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan dan Trayek Tetap dan Teratur. Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Jakarta. Hutchinson, E. 2017. Principles of Microeconomics. University of Victoria. Canada. Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. 2012. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Massal Berbasis Jalan. Jakarta: Kementerian Perhubungan. pertokoan. 2016. Pada KBBI Daring. Diambil 14 Mei 2022, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pertokoan Pramasunar, B. S. (2018). Analisis Potensi Demand Batik Solo Trans Koridor 2 pada Fungsi Guna Lahan Pertokoan dan Analisis Ability To Pay (ATP) dan Willingness To Pay (WTP). Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Jakarta: Kementerian Perhubungan. Susanto, Angga Dicky (2016). Analisis Potensi Demand, Ability to Pay (ATP), dan Willingness to Pay (WTP) BST Koridor 1 Dengan Adanya Sistem Contra Flow di Jalan Brigjen Slamet Riyadi pada pertokoan. Warpani, P. Suwardjoko. 2002. Pengelolaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Bandung : Penerbit ITB. Warpani, Suwardjoko. 1990. Merencanakan Sistem Perangkutan. Bandung : Penerbit ITB.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.