TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA LONGSOR DI DESA WISATA LERENG GUNUNG LAWU, KABUPATEN KARANGANYAR (STUDI KASUS: DESA NGLEBAK DAN KELURAHAN TAWANGMANGU)

Ridho Adam Sarwadi, Istijabatul Aliyah, Tendra Istanabi

Abstract

Kabupaten Karanganyar memiliki banyak desa wisata terutama di daerah Lereng Gunung Lawu. Letaknya yang berada pada lereng, menmbuat desa-desa wisata ini memiliki tingkat rawan longsor sedang hingga tinggi, sehingga perlu diupayakan mitigasi bencana longsor. Mitigasi bencana longsor adalah upaya meminimalisir risiko terjadinga longsor secara struktural atau fisik dan non stuktural atau non fisik. Penelitian ini akan mencoba melihat upaya-upaya apa saja yang telah dilakukan di desa wisata dalam mitigasi bencana longsor, apakah sudah sesuai dengan peraturan atau teori yang ada. Mitigasi bencana longsor harus dilakukan oleh semua elemen mulai dari pemerintah hingga masyarakat. Masyarakat memiliki kewajiban untuk berperan aktif dalam upaya mitigasi bencana longsor seperti yang tertuang dalam Perda Kab. Karanganyar No. 23 Tahun 2015. Oleh karena itu, penelitian ini juga akan mencoba mengidentifikasi paa saja bentuk-bentuk partisipasi masyarakat yang dilakukan dalam upaya mitigasi bencana longsor. Selanjutnya, akan dianalisis seberapa jauh masyarakat terlibat dalam upaya mitigasi bencana longsor. Teknik analisis yang digunakan yaitu kuantitatif dengan metode pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, studi literatur, dan survei instansional. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa bentuk mitigasi bencana longsor yang dilakukan di kedua desa yaitu Desa Nglebak dan Kelurahan Tawangmangu memiliki perbedaan. Kelurahan Tawangamangu yang mengalami frekuensi longsor yang lebih sering dan berskala besar melakukan upaya yang lebih disbanding Desa Nglebak. Perbedaan upaya ini terjadi karena urgensi dan kebutuhan akan upaya mitigasi yang berbeda sesuai dengan frekuensi dan skala longsor. Untuk bentuk partisipasi masyarakat, kedua desa memiliki persamaan yaitu terdapat empat bentuk partisipasi: pemikiran, tenaga, uang, dan barang. Partisipasi tenaga merupakan partisipasi yang paling banyak dilakukan di kedua desa (80% dan 87%). Sedangkan partisipasi yang paling jarang dilakukan adalah partisipasi barang, masing-masingĀ  (5% dan 3%). Untuk menghitung tingkat partisipasi masyarakat, dilakukan analisis dengan metode skoring. Hasil analisis menunjukan bahwa kedua desa berada pada tangga dan tingkat partisipasi yang sama, yaitu Partnership dengan tingkat partisipasi tinggi. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat bersama pemerintah desa bersama-sama merancang dan melaksanakan upaya mitigasi bencana longsor.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.